Memiliki impian adalah hal mendorong kita maju. Membaca inspirasi dari tokoh-tokoh yang berpengaruh tentunya memberikan kita motivasi untuk menjadi lebih baik. Membaca seringkali membuka cakrawala kita dalam berpikir..betapa visi yang ada dalam diri seseorang terpancar melalui kata-katanya..
Sangatlah tepat, bahwa, sejak dulu orang menyatakan bahwa orang sukses selalu menggunakan kata-kata besar. Pada kesempatan ini, timbul ketertarikan untuk melihat lebih dalam dari inspirasi seorang putera sampoerna.. mencoba memahami akan menjadi lebih baik walaupun kadang pandangan yang didapat berbeda seiring tingkat visi dan kebijaksanaan.. Namun itu akan terasa lebih menyenangkan daripada menutup diri untuk tahu segala sesuatu untuk maju.. Belajar dan terbuka sangatlah menyenangkan.
Berikut kutipan yang saya ambil dari http://www.sampoernafoundation.org/,yang berisi wawancara majalah tempo dengan Putera Sampoerna..
Bagaimana awal munculnya ide Sampoerna Foundation?
Pada 2001 yayasan ini berdiri. Setelah krisis moneter dan era reformasi,saya berpikir apa yang bisa kami berikan agar Indonesia bisa lebih cepat bangkit. Salah satu jawabannya adalah dengan menciptakan pemimpin masa depan. Bukan kalangan akademisi, tapi individu yang lebih siap menghadapi tantangan. Seperti Anda lihat, banyak rakyat kita yang belum terdidik dengan baik, demokrasi masih lemah. Saat tokoh masyarakat bilang kuning, semua kuning. Merah, ya semua merah, tanpa memikirkan apa yang sebenarnya mereka inginkan. Bagaimana mungkin kita memperbaiki masyarakat tanpa orang-orang yang berkarakter? Saat itu, ada kesan kuat bahwa masyarakat kita adalah anti-Cina. Itu keliru. Menurut saya, yang terjadi adalah masyarakat antiterhadap kelas komersial. Ini yang perlu dipahami dengan lebih baik. Karena itu, pemimpin yang dibutuhkan juga bukan hanya orang yang mengerti ekonomi, tapi juga bermoral luhur.
Mengapa fokusnya pendidikan?
Menurut saya, berapa pun banyaknya uang yang kita punyai, tak akan bisa menyelesaikan permasalahan yang ada di masyarakat kita. Karena itu, pertanyaannya adalah “Apakah kita akan meninggalkan dunia yang lebih baiksetelah kita meninggal?” Setiap orang bisa melakukannya, misalkan memberi waktu dan uang untuk dikelola. Tapi, untuk itu perlu banyak orang yang berpartisipasi. Anggap saja Sampoerna Foundation adalah sebuah kendaraan bagi orang-orang yang tidak memiliki waktu untuk berdonasi, tapi ingin memberikan kontribusi nyata bagi perbaikan negeri ini. Pendidikan adalah awal dari segala sesuatu, seperti kata sebuah ungkapan: “Jangan berikan ikan, tapi sediakan joran.”
Masalah apa yang paling sulit dihadapi saat awal beroperasinya yayasan ini?
Mengerti keinginan masyarakat. Untuk memulainya saya tidak dapat melakukannya dengan menyediakan insinyur, ahli hukum, ilmuwan, atau dokter. Saya ingin sekali, tapi sumber tak ada. Namun, saya siap membantu. Bagi saya, sekarang ini yang penting adalah ilmuwan di bidang sosial, yang mengerti persoalan sosial, pemerintahan, dan ekonomi. Mengerti masyarakat dan mengerti pemerintah adalah hal penting.
Menurut Anda, mana yang lebih sulit di antara keduanya?
Keduanya tak terpisahkan. Sebagai masyarakat, Anda harus paham tentang fungsi pemerintah, termasuk mengerti fungsi kelas pedagang. Bagi saya, negeri ini sudah memberikan kemakmuran kepada saya, yang ingin saya berikan kembali kepada masyarakat. Izinkan saya giring orang Indonesia masuk ke kalangan intelektual yang lebih luas. Jika Anda memberikan kesempatan untuk belajar, untuk mengerti teknologi, mereka bisa unjuk gigi di tingkat internasional. Bukan lagi sekadar tukang gunting. Itu yang bisa dicapai lewat pendidikan.
Jadi, Anda melihat permasalahan di luar perusahaan ketimbang di dalam perusahaan sendiri, padahal Sampoerna sebagai perusahaan rokok tidak membutuhkan sumber daya manusia yang canggih melainkan teknologi? Orang melihat Sampoerna sebagai perusahaan dari Indonesia, tapi Indonesia yang seperti apa? Lihat saja CNN yang hanya meliput Indonesia tentang batik. Ini sebuah sinyal. Ketika saya sekolah di Amerika, saya juga pernah mengalami diskriminasi. Mereka memandang rendah saya. “Dari mana?” tanya mereka sinis, “Indonesia?” (“Sebuah rimba,” sambung Michelle, “di mana orang-orang bergelayut dari pohon ke pohon.”)
Di Indonesia saya disebut berasal dari kalangan elite, tapi di Amerika saya bukan siapa-siapa. Saat Anda mengalami diskriminasi seperti itu, apa yang bisa Anda lakukan? Menangis? Berdiam? Atau bekerja keras untuk menunjukkan kualitas Anda yang sebenarnya?
Mengapa Anda berani menginjeksikan US$ 150 juta (sekitar Rp 1,4 triliun)
selama 10 tahun ke depan?
Saya tidak memberikan komentar pada pendapat orang. Anda pun bisa memberikan sumbangan sebanyak itu untuk menjalankan yayasan ini. Kalau saya berbuat seperti ini untuk yayasan, apakah orang lain akan mau membantu? Saya tidak yakin. Tapi, yang jelas, saya yakin masyarakat dari golongan atas sampai yang terendah dapat mendukung program ini bersama-sama, bahkan jika Anda ingin menggunakan nama Anda untuk sebuah sumbangan yang Anda berikan. Misalkan Lin Che Wei ingin mendirikan lembaga, maka kami akan membantu, bahkan akan membuat lembaga itu menjadi Lin Che Wei Foundation. Tak jadi
masalah.
Sejauh ini, apakah hasil yang Anda capai selama enam tahun sudah memuaskan?
Saya kira, ya, meskipun dalam perjalanannya ada kelemahan ini-itu. Pemerintah ingin warganya menikmati pendidikan menengah dan lulus SMA. Kini kami menyediakan beasiswa untuk dalam dan luar negeri. Kita membutuhkan proses untuk menyaingi negara lain yang lebih maju, misalkan Singapura. Biaya pendidikan seorang mahasiswa di sebuah universitas di Indonesia sebesar Rp 18 juta per tahun. Angka ini sangat jauh bila dibandingkan dengan Singapura yang mencapai Rp 150 juta per tahun. Makanya kami membutuhkanbanyak orang untuk mendukung.
Pendidikan adalah persoalan yang kompleks? Dari mana Anda ingin memulai?
Sekarang ini guru digaji rendah. Kualitas mereka diragukan. Gaji maksimal (untuk pegawai negeri sipil) mungkin Rp 3 juta. Coba bandingkan dengan gaji guru di (ia menyebut nama sebuah sekolah swastaRed.) yang bisa Rp 15 juta sebulan. Idealnya, menurut saya, para guru kita mendapat level gaji Rp 810 juta. Itu guru dengan level A, karena seorang guru yang baik akan mentransfer ilmu kepada 50 orang muridnya yang juga akan menjadi level A, yang siap bersaing memasuki kampus perguruan tinggi internasional. Tapi, persoalannya sekarang adalah dari mana mendapatkan uang yang sebanyak itu untuk mendukung program pendidikan guru? Lalu yang tak kalah penting: dari mana gurunya? Ini seperti problem lingkaran setan, mana yang lebih dulu antara ayam dan telur? Menurut saya, kualitas guru harus diperbaiki lebih dulu.
Untuk mendapatkan para guru dengan level A itu, apakah yayasan yang memilih mereka secara eksklusif atau guru mana pun di Indonesia bisa mengikuti program ini dengan mengajukan aplikasi? Bisa dua-duanya. Sampoerna Foundation tidak mengambil keuntungan dari dana pendidikan itu. Tapi, jika saya memiliki sekolah dengan label Sampoerna, maka saya akan menyediakan guru sendiri. Cuma saya ingin mengingatkan pemerintah, kalau kami diberikan (guru dengan kualitas) sampah, maka yang kami kembalikan pun sampah. Bedanya cuma sampah yang kami kembalikan itu sudah diberi pita. Berikan kami yang baik, maka akan kami jadikan mereka (memiliki) level A.
Adakah model pendidikan di lembaga tertentu atau di negara tertentu yang
dijadikan acuan?
Untuk model pendidikan yang baik di sini contohnya Pelita Harapan. Tapi jika Sampoerna memiliki 6.000 lulusan SMA yang terbaik dari, misalnya, 50 sekolah di Indonesia setiap tahunnya, untuk melanjutkan pendidikan ke universitas, dan dalam empat tahun kemudian, akan ada sekitar 24 ribu lulusan universitas
yang bermutu tinggi. Setidaknya bisa mengurangi lulusan SMA yang bekerja hanya sebagai sopir taksi.
Tapi, kami tidak mungkin bisa berjalan sendiri dengan uang yang ada sekarang, yang disebut orang-orang sebagai perusahaan kaya. Kami bukanlah lembaga sosial, melainkan memberikan pinjaman pendidikan yang akan dikembalikan dalam kurun waktu tertentu, dari gaji yang didapat para penerima beasiswa itu setelah mereka bekerja. Saya bukan pemerintah yang memberikan dana untuk membiayai pendidikan dari anggaran biaya pendidikan. Mungkin kami terlihat diskriminatif karena hanya memilih yang terbaik, tetapi kami harus fokus. Tidak mungkin membantu semuanya.
Bagaimana Anda melihat dunia pendidikan Indonesia selama tiga dekade terakhir?
Sebelum krisis moneter, meskipun banyak kepentingan politik, pendidikanmasih lumayan diperhatikan. Setelah krisis, banyak hal yang harus dikerjakan. Pendidikan jadi terabaikan. Kita sekarang ingin berkonsentrasi pada dunia industri. Tapi, bisakah kita bersaing dengan Cina dan Vietnam? Mereka bisa fleksibel bekerja pada plastik dan tekstil. Kita masih juga terbentur dengan kebudayaan, misalkan perempuan yang harus pulang ke rumah untuk memasak. Di satu sisi pemerintah ingin mengembangkan pertanian, tapi juga industri. Ingin mengerjakan banyak hal sekaligus, tapi tidak ada dana. Itu sama halnya ketika Anda meminta saya untuk mengerjakan 15 hal yang perlu dikerjakan, tapi saya hanya mengerjakan lima saja. Bagaimana? Persoalan di masyarakat kita terlalu banyak. Kalau Anda mengharapkan saya mengerjakan banyak hal sekaligus, carikan saya uang, maka saya akan kerjakan.
Jika nanti konsep Anda berhasil dan banyak lulusan bermutu tinggi dari yayasan ini, apakah Anda juga akan menyediakan lapangan pekerjaan bagi mereka?
Hanya satu perusahaan bernama Sampoerna dan satu yayasan bernama Sampoerna Foundation, mana mungkin dapat menyelesaikan masalah? Kita harus memperbaiki ekonomi bersama-sama. Setidaknya perbaiki beberapa bidang yang penting. Fokus saja pada tiga hal, yakni pertanian, kayu, dan mineral. Di situ kita bisa bersaing dengan negara lain seperti Brasil atau Kongo.
Apa resep keberhasilan Anda mengelola Sampoerna Foundation?
Saya tidak akan beri tahu Anda (tersenyum). Tidak semua orang bisa mendirikan lembaga pendidikan. Banyak pengusaha yang mendirikan yayasan agar istri mereka punya kegiatan, padahal yang mereka lakukan hanya kumpul-kumpul saja seperti sebuah klub. Untuk mendirikan sebuah yayasan, Anda harus mempunyai visi dan misi. Saya berharap bisa mendapatkan uang lebih banyak untuk menjalankan yayasan ini. Saya sedih hanya bisa membantu 6.000 lulusan SMA. Makanya beri saya tambahan uang.
Apakah Anda masih terlibat langsung dalam pengelolaan yayasan atau hanya menerima laporan?
Saya sudah pensiun. Saya hanya menurunkan visi dan misi kepada Michelle, Elan, dan Lin Che Wei. Mereka yang bekerja full time.
pemahaman dari penulis
Berpikir dan menggunakan hati lumayan tepat untuk menggambarkan apa yang dimaksud oleh putera. Terlena oleh kebiasaan dan pandangan umum tanpa mempertimbangkan baik buruk, salah atau benar, ketika tokoh-tokoh bilang bahwa kuning maka kita kuning, hitam ya hitam. Pendidikan menjadi salah satu jalan untuk memajukan bangsa ini untuk bersaing dengan negara lain di dunia. Tentunya keterkejutan dan shocked ketika membaca bahwa ketika putera di Amrik tidak dianggap apa2, bayangkan seorang putera juga demikian, apalagi masyarakat kecil seperti saya.he he he(kemungkinan besar bergelantungan diatas pohon tuh..).. Mungkin putera akan menjadi contoh betapa inspirasi dan visi untuk menjadikan indonesia lebih baik.Bisa membantu orang lain dan negara sungguh la mulia…. Terbersit dalam hati bahwa orang akan sukses jika memahami prinsip ” Lakukan kebaikan sebanyak-banyaknya kepada orang lain dengan daya ungkit yang besar.. salam..